web widgets

Sabtu, 05 September 2015

Bab 59. Anjuran Untuk Makan Dari Hasil Usaha Sendiri Dan Menahan Diri Dari Meminta Serta Menuntut Agar Diberi


Allah Ta'ala berfirman: "Jikalau shalat telah diselesaikan, maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah," hingga habisnya ayat. (al-Jumu'ah: 10)

537. Dari Abu Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya -untuk mengikat- lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali -di negerinya- dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya, kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya -menjaga harga diri dari meminta-minta-, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya." (Riwayat Bukhari)

538. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya jikalau seseorang dari engkau semua itu mencari sebongkokan kayu bakar dan diletakkan di atas punggungnya, itu adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, kemudian orang yang dimintai itu memberinya atau menolak permintaannya." (Muttafaq 'alaih)

539. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Adalah Nabi Dawud 'alaihis-salam itu tidak suka makan sesuatu, kecuali dari hasil usaha tangannya sendiri -yakni hasil kerjanya sendiri-." (Riwayat Bukhari)

540. Dari Abu Hurairah r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Nabi Zakariya 'alaihis-salam itu adalah seorang tukang kayu." (Riwayat Muslim)


541. Dari al-Miqdad bin Ma'dikariba r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan, sekalipun sedikit, yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabiyullah Dawud 'alaihis-salam itu juga makan dari hasil usaha tangannya sendiri." (Riwayat Bukhari)

Bab 58. Boleh Menerima Pemberian Tanpa Meminta Atau Mengintai -Mengharap-harapkan-





536. Dari Salim bin Abdullah bin Umar dari ayahnya, yaitu Abdullah bin Umar dari Umar radhiallahu 'anhum, katanya: "Rasulullah s.a.w. memberikan sesuatu pemberian kepada saya, lalu saya berkata: "Berikanlah itu kepada orang yang lebih membutuhkan padanya daripada saya sendiri." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Ambil sajalah pemberian ini, jikalau ada sesuatu yang datang dari harta ini, sedangkan engkau tidak mengharap-harapkan dan tidak pula memintanya -padahal engkau diberi dengan keikhlasan hati-, maka ambillah itu. Jadikanlah itu sebagai hartamu -yang sah-. Jikalau engkau suka, makanlah ia dan jikalau engkau suka maka bersedekahlah dengannya. Tetapi jikalau tidak demikian -artinya datangnya harta itu dengan sebab diharap-harapkan untuk diberi atau karena diminta-, maka janganlah engkau memperturutkan hawa nafsumu -yakni melakukan itu dan kalau diberi jangan pula menerimanya-."' Salim berkata: "Maka Abdullah tidak pernah meminta sesuatu apapun dari orang lain dan tidak pernah pula menolak sesuatu pemberian, jikalau ia diberi. (Muttafaq 'alaih)

Selasa, 28 April 2015

Bab 57. Qana'ah -Puas Dengan Apa Adanya Dan Tetap Berusaha-, 'Afaf -Enggan Meminta-minta-, Berlaku Sederhana Dalam Kehidupan Dan Berbelanja, Serta Mencela Meminta Tanpa Darurat

Allah Ta'ala berfirman: "Tiada sesuatupun binatang yang bergerak di bumi itu, kecuali atas tanggungan Allah jualah keadaan rezekinya." (Hud: 6)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Berikanlah sedekah itu kepada kaum fakir yang terikat dalam menjalankan jihad fisabilillah, mereka tidak dapat berjalan keliling negeri. Orang-orang yang tidak mengetahui akan mengira bahwa mereka itu adalah orang-orang yang kaya karena bersikap ta'affuf -enggan meminta-minta-. Engkau dapat mengenal mereka itu dengan tanda-tandanya yakni bahwa mereka itu tidak mau meminta kepada para manusia secara berulang kali -yakni menyangat-nyangatkan permintaannya-." (al-Baqarah: 273)

Juga Allah Ta'ala berfirman: "Dan mereka -hamba-hamba Allah yang berbakti- itu apabila menafkahkan hartanya, maka mereka itu tidak melampaui batas -terlalu boros- dan tidak pula bersikap kikir, tetapi pertengahan antara keduanya itu." (al-Furqan: 67)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia itu melainkan supaya menyembah padaKu. Aku tidak hendak meminta rezeki kepada mereka dan Aku tidak hendak meminta supaya mereka memberi makanan kepadaKu." (adz-Dzariyat: 56-57)

Adapun Hadits-haditsnya, maka sebagian besar telah diuraikan dalam kedua bab yang ada di muka. Di antaranya yang belum terdapat di muka ialah:

520. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Bukannya yang dinamakan kaya itu karena banyaknya harta, tetapi yang dinamakan kaya -yang sebenarnya- ialah kayanya jiwa." (Muttafaq 'alaih)

521. Dari Abdullah bin 'Amr radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sungguh berbahagialah orang yang masuk Agama Islam dan diberi rezeki cukup serta dikaruniai sifat qana'ah oleh Allah dengan apa-apa yang direzekikan kepadanya itu." (Riwayat Imam Muslim)

522. Dari Hakim bin Hizam r.a., katanya: "Saya meminta kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan sesuatu padaku, lalu saya meminta lagi pada beliau, kemudian beliaupun memberikan pula sesuatu padaku, selanjutnya beliau bersabda: "Hai Hakim, sesungguhnya harta ini adalah sebagai benda yang kehijau-hijauan -yakni enak dirasakan dan nyaman dipandang juga manis-. Maka barangsiapa yang mengambilnya itu dengan jiwa kedermawanan -dari orang yang memberikannya serta memintanya itu dengan tidak memaksa-, tentulah harta itu memperoleh berkah Tuhan, tetapi barangsiapa yang mengambilnya itu dengan jiwa kelobaan -atau ketamakan-, maka tidak memperoleh berkah Tuhan dalam harta tadi. Ia adalah sebagai seorang yang makan, namun tidak kenyang-kenyang. Tangan yang bagian atas -yang memberi- adalah lebih mulia daripada yang bagian bawah -yang diberi-." Hakim lalu berkata: "Ya Rasulullah, demi Zat yang mengutus Tuan dengan membawa kebenaran, saya tidak akan suka lagi menerima sesuatu dari seorangpun sepeninggal Tuan nanti, sehingga saya akan berpisah dengan dunia -yakni sampai mati-." Abu Bakar r.a. pernah mengundang Hakim karena hendak memberikan sesuatu padanya, tetapi Hakim menolak untuk menerima sesuatupun dari pemberian itu. Seterusnya Umar r.a. pernah pula memanggilnya untuk memberikan sesuatu pada Hakim itu, tetapi ia juga enggan menerima pemberian tadi. Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma itu memanggil di kala keduanya menjabat sebagai khalifah secara bergantian. Umar lalu berkata: "Hai sekalian kaum Muslimin, saya mempersaksikan kepadamu semua atas diri Hakim ini, bahwasanya saya menawarkan padanya akan haknya yang saya wajib membagikan untuknya dari harta rampasan, tetapi ia enggan mengambil haknya itu. Hakim memang tidak pernah menerima sesuatu pemberian dari seorangpun setelah wafatnya Nabi s.a.w., sehingga ia meninggal dunia. (Muttafaq 'alaih)

523. Dari Abu Burdah dari Abu Musa al-Asy'ari r.a., katanya: "Kita semua keluar bersama Rasulullah s.a.w. dalam melakukan sesuatu peperangan. Kita semua ada enam orang banyaknya -yakni yang menyertai Nabi s.a.w. itu-, diantara kita ada seekor unta yang kita gunakan untuk ganti berganti menaikinya. Maka berlobang-lobanglah kaki-kaki kita, juga kakikupun berlobang-lobang pula dan jatuhlah kuku-kukuku. Oleh sebab itu kita lalu membalutkan beberapa helai kain pada kaki-kaki kita itu dan dengan demikian peperangan itu dinamakan perang Dzatu riqa' -mempunyai beberapa balutan kain-, karena kita membalutkan beberapa helai kain pada kaki-kaki kita tadi." Abu Burdah berkata: "Abu Musa menceritakan hadits ini, kemudian ia merasa tidak senang dalam menguraikannya itu dan ia mengatakan: "Apa yang dapat saya lakukan dengan menyebut-nyebutkannya itu?" Abu Burdah melanjutkan katanya: "Seolah-olah Abu Musa itu tidak senang kalau menyebutkan sesuatu amalannya, lalu disiar-siarkannya." (Muttafaq 'alaih) Maksudnya: Oleh sebab adanya bala' sampai kaki-kaki menjadi rusak dan kuku-kuku lepas itu adalah semata-mata urusan antara manusia dengan Tuhan, maka menurut anggapan Abu Musa r.a. tidak perlu diterang-terangkan, supaya tidak dianggap sebagai memamerkan jasa atau amalan."

524. Dari 'Amr bin Taghlib -dengan fathahnya ta' mutsannat di atas dan sukunnya ghain mu'jamah dan kasrahnya fam- r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w. didatangi -memperoleh- harta atau rampasan, lalu beliau s.a.w. membagikan itu. Ada beberapa orang yang beliau beri dan ada pula beberapa orang yang beliau tinggalkan -yakni tidak diberi bagian-. Kemudian sampailah suatu berita kepada beliau bahwa orang-orang yang tidak diberi itu sama mencela cara beliau membagikan tadi. Beliau s.a.w. lalu bertahmid kepada Allah lalu memujiNya, kemudian bersabda: "Amma ba'du." Sesungguhnya saya memberikan bagian kepada golongan -beberapa orang-, karena saya mengetahui keluh kesah dalam hati mereka itu serta sesambatan mereka yang amat sangat, sedang segolongan lain saya serahkan kepada Allah, karena Allah telah memberikan kekayaan bathin dan kebaikan dalam hati mereka ini, diantara mereka ini adalah 'Amr bin Taghlib." 'Amr bin Taghlib berkata: "Demi Allah, saya amat gembira mendengar pujian beliau s.a.w. itu pada saya, sehingga karena gembiranya, maka saya tidak suka andaikata kalimat Rasulullah s.a.w. yang ditujukan kepada saya itu ditukar dengan ternak-ternak merah -sebagai kiasan sebaik-baik harta bagi bangsa Arab-." (Riwayat Bukhari)

525. Dari Hakim bin Hizam r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tangan yang bagian atas -yang memberi- adalah lebih mulia daripada tangan yang bagian bawah -yang diberi-. Dan dahulukanlah dalam pemberian itu kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu -yakni yang wajib dinafkahi-. Sebaik-baik sedekah ialah yang diberikan di luar kebutuhan -yakni keadaan diri sendiri dan keluarga sudah dicukupi-. Barangsiapa yang enggan  meminta, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya dan barangsiapa tidak membutuhkan pemberian manusia, maka Allah akan memberikan kekayaan padanya." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari, sedang lafaznya Imam Muslim adalah lebih ringkas lagi.

526. Dari Abu Abdir Rahman, yaitu Mu'awiyah bin Abu Sufyan yaitu Shakhr bin Harb radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua mempersangatkan dalam meminta sesuatu, sebab demi Allah, tidaklah seorang dari engkau semua itu meminta sesuatu, kemudian karena permintaannya itu lalu dapat mengeluarkan sesuatu pemberian daripadaku untuknya, sedangkan saya tidak senang dengan cara memintanya, selanjutnya lalu diberkahi untuk orang tadi dalam apa-apa yang saya berikan." (Riwayat Muslim) Maksudnya bahwa rezeki yang berasal dari meminta, apabila rezeki itu menjadi bertambah banyak dan kekal karena dibuat berusaha umpamanya, maka yang diminta dengan baik yakni tidak seolah-olah memaksa adalah lebih baik dan lebih banyak berkahnya dari yang diminta dengan nada yang seolah-olah memaksa.

527. Dari Abu Abdir Rahman, yaitu 'Auf bin Malik al-Asyja'i r.a., katanya: "Kita semua ada di sisi Rasulullah s.a.w. dan kita ada sembilan, delapan atau tujuh orang, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Tidakkah engkau semua berbai'at kepada Rasulullah?" Padahal kita semua baru beberapa hari saja melakukan pembai'atan pula pada beliau itu, oleh sebab itu kita berkata: "Kita semua telah membai'at Tuan, ya Rasulullah." Kemudian beliau s.a.w. bersabda lagi: "Tidakkah engkau semua berbai'at kepada Rasulullah?" Kita lalu membeberkan tangan-tangan kita dan kita berkata: "Kita semua dulu sudah berbai'at kepada Tuan, ya Rasulullah dan sekarang kita berbai'at lagi dalam hal apakah?" Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Hendaklah engkau semua menyembah kepada Allah yang Maha Esa dan jangan menyekutukan sesuatu denganNya, tetapi tetaplah mengerjakan shalat lima waktu dan sampai engkau semua mendengarkan serta melakukan ketaatan," lalu beliau memperlahankan suaranya dan bersabda dengan berbisik: "Dan jangan meminta sesuatu apapun dari orang-orang." Maka sungguh saya pernah melihat ada orang yang termasuk golongan orang-orang di atas itu, ketika cemetinya jatuh, ia tidak meminta seorang supaya diambilkan cemetinya tadi." (Riwayat Muslim)

528. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak henti-hentinya permintaan itu menghinggapi seorang diantara engkau semua -yakni orang yang senantiasa mempunyai tabiat suka meminta-minta itu tidak akan berhenti-, sehingga ia menemui Allah Ta'ala -yaitu pada hari kiamat nanti- sedang di wajahnya itu tidak terdapat sepotong dagingpun -jadi dalam keadaan sangat hina dina-." (Muttafaq 'alaih)

529. Dari Ibnu Umar r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda, sedang di kala itu beliau berada di atas mimbar dan menyebut-nyebutkan perihal sedekah dan menahan diri dari meminta: "Tangan yang bagian atas adalah lebih baik daripada tangan yang bagian bawah. Tangan yang bagian atas itu adalah yang menafkahkan -yakni yang memberikan sedekah, sedang tangan yang bagian bawah adalah yang meminta-." (Muttafaq 'alaih)

530. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang-orang dengan maksud supaya menjadi banyak apa yang dimilikinya -jadi sudah cukup tetapi terus saja meminta-minta-, maka sebenarnyalah orang itu meminta bara api. Maka dari itu baiklah ia memilih hendak mempersedikitkan atau memperbanyakkan -siksanya-." (Riwayat Muslim)

Keterangan:
Hadis di atas dapat diartikan bahwa orang sebagaimana yang tersebut itu yakni yang meminta-minta lebih dari keperluannya atau untuk mencari yang sebanyak-banyaknya akan disiksa dalam neraka dan oleh Rasulullah s.a.w. dikiaskan sebagai orang-orang yang meminta bara api. Tetapi dapat pula diartikan dengan makna yang sebenarnya menurut lahiriyah sabda beliau s.a.w., yaitu bahwa bara api akan dimasukkan dalam seterika dan kepada orang sebagaimana di atas itu akan diseterikakan pada punggung dan lambungnya, seperti juga keadaan orang yang sudah berkewajiban zakat, namun enggan mengeluarkan atau menunaikan kewajiban zakatnya. Demikianlah yang diuraikan oleh al-Qadhi'Iyadh dalam menafsiri hadits di atas.

531. Dari Samurah bin Jundub r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya permintaan adalah suatu cakaran yang seorang itu mencakarkan sendiri ke arah mukanya, kecuali jikalau seorang itu meminta kepada sultan -penguasa negara- atau ia meminta untuk sesuatu keperluan yang tidak boleh tidak ia harus melakukannya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

532. Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang dihinggapi oleh kemelaratan, lalu diturunkannya kepada manusia -yakni meminta tolong kepada sesama manusia agar dihilangkan kemelaratannya itu-, maka tentu tidak akan tertutuplah kemelaratannya tadi. Tetapi barangsiapa menurunkannya kepada Allah -yakni mohon kepadaNya agar dihilangkan kemelaratannya-, maka bersegeralah Allah akan memberinya rezeki yang kontan -cepat diberikannya- atau rezeki yang dilambatkan memberikannya." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Meminta kepada Sultan itupun tidak boleh sembarang minta, tetapi yang ada sangkut pautnya dengan soal-soal keagamaan, misalnya meminta zakat yang diwajibkan oleh Allah kepadanya atau seperlima bagian dari hasil rampasan peperangan atau memang karena untuk kepentingan umat dan masyarakat.

533. Dari Tsauban r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Siapakah yang memberikan jaminan kepada saya bahwa ia tidak akan meminta apapun dari para manusia dan saya memberikan jaminan padanya untuk memperoleh syurga?" Saya berkata: "Saya." Maka Tsauban sejak saat itu tidak pernah meminta sesuatu apapun kepada siapa saja. Diriwayatkan oleh Imam Dawud dengan isnad shahih.

534. Dari Abu Bisyr yaitu Qabishah bin al-Mukhariq r.a., katanya: "Saya mempunyai beban sesuatu tanggungan harta -hamalah-, lalu saya datang kepada Rasulullah s.a.w. untuk meminta sesuatu padanya guna melunasi tanggungan itu. Beliau s.a.w. bersabda: "Berdiamlah di sini dulu sampai ada harta sedekah -zakat- yang datang pada kita, maka dengan harta itu kita akan menyuruh guna diberikan padamu," selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Hai Qabishah, sesungguhnya permintaan itu tidak boleh dilakukan kecuali untuk salah satu dari tiga macam orang ini, yaitu: seorang yang mempunyai beban sesuatu tanggungan harta -hamalah-, maka bolehlah ia meminta sehingga memperoleh sejumlah harta yang diperlukan tadi, kemudian menahan diri -jangan meminta-minta lagi-. Juga seorang yang mendapatkan sesuatu bencana, sehingga menyebabkan kemusnahan hartanya -lalu menjadi miskin-, maka bolehlah ia meminta, sehingga dapatlah ia memperoleh sesuatu untuk menutupi keperluan hidupnya," atau sabda beliau: "Sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Demikian pula seorang yang dihinggapi oleh kemelaratan, sehingga ada tiga orang dari golongan orang-orang yang berakal di kalangan kaumnya mengatakan: "Benar-benar si Fulan itu telah dihinggapi oleh kemelaratan," maka orang semacam itu bolehlah meminta sehingga dapatlah ia memperoleh sesuatu untuk menutupi keperluan hidupnya," atau sabda beliau: "Sesuatu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya." Adapun selain tiga macam orang tersebut di atas, maka permintaannya itu, hai Qabishah adalah merupakan suatu perbuatan dosa yang dimakan oleh orang yang memintanya tadi dengan memperoleh dosa." (Riwayat Muslim) Alhamalah dengan fathahnya ha' ialah apabila terjadi sesuatu pertempuran ataupun pertengkaran lain-lain antara dua golongan, kemudian ada orang yang bermaksud hendak mendamaikan antara mereka itu dengan cara memberikan harta yang menjadi tanggungannya dan mewajibkan pengeluarannya itu atas dirinya sendiri. Tanggungan harta semacam inilah yang dinamakan hamalah. Aljaihah ialah sesuatu bencana yang mengenai harta seorang -sehingga ia menjadi miskin-. Alqiwam dengan kasrahnya qaf atau dengan fathahnya ialah sesuatu yang dengannya itulah urusan seorang dapat berdiri dengan baik, ini adalah berupa harta ataupun lain-lainnya. Assidad dengan kasrahnya sin ialah sesuatu yang dapat menutupi kebutuhan orang yang mempunyai keperluan dan dapat pula mencukupinya. Alfaqah ialah kekafiran. Alhija ialah akal.


535. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bukannya orang miskin itu orang yang berkeliling mendatangi orang banyak -keluar masuk dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu- lalu ditolak ketika meminta sebiji atau dua biji kurma atau ketika meminta sesuap atau dua suap makanan, tetapi orang miskin yang sebenarnya ialah orang yang tidak mempunyai kekayaan untuk mencukupi kebutuhannya, tidak pula diketahui kemiskinannya, sebab andaikata diketahui tentu ia akan diberi sedekah bahkan tidak pula ia suka berdiri lalu meminta-minta sesuatu kepada orang-orang." (Muttafaq 'alaih)

Kamis, 23 April 2015

Bab 56. Keutamaan Lapar, Hidup Sederhana, Cukup Dengan Sedikit Saja Dalam Hal Makan, Minum, Pakaian Dan Lain-lain Dari Ketentuan-ketentuan Badan Serta Meninggalkan Kesyahwatan-kesyahwatan (Keinginan-keinginan Jasmaniyah)

Allah Ta'ala berfirman: "Kemudian mereka digantikan oleh sesuatu angkatan -kaum atau golongan- yang meninggalkan shalat dan memperturutkan keinginan nafsu, maka oleh sebab itu, mereka akan menemui kebinasaan. Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta beramal shalih, maka mereka itu akan memasuki syurga dan tidak dianiaya sedikitpun." (Maryam: 59-60)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Kemudian keluarlah ia -yakni Qarun- pada kaumnya dengan perhiasannya -yang indah-indah. Orang yang menghendaki kehidupan dunia berkata: "Wahai, kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia mempunyai bagian keuntungan yang besar -yakni bernasib baik sekali. Tetapi orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan berkata: "Celaka engkau semua itu, pahala dari Allah adalah lebih baik untuk orang yang beriman dan beramal shalih." (al-Qashash: 79-80)

Juga Allah Ta'ala berfirman: "Kemudian pada hari itu -yakni hari kiamat, sesungguhnya engkau semua akan ditanya tentang kesenangan -dunia." (at-Takatsur: 8)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Barangsiapa yang menginginkan kehidupan yang sekarang, maka Kami segerakan -memberikan- kepadanya apa yang Kami kehendaki, untuk orang yang Kami sukai, kemudian Kami jadikan untuknya neraka jahannam, ia masuk ke dalamnya dalam keadaan tercela dan dihalaukan -terusir." (al-Isra': 18)

Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi.

489. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Tidak pernah kenyang keluarga Muhammad s.a.w. itu dari roti gandum selama dua hari terus menerus, keadaan sedemikian ini sampai beliau s.a.w. dicabut ruhnya." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: "Tidak pernah kenyang keluarga Muhammad s.a.w. itu sejak beliau datang di Madinah dari makanan gandum selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau dicabut ruhnya -wafat."

490. Dari Urwah dari Aisyah radhiallahu 'anha, bahwasanya Aisyah pernah berkata: "Demi Allah, hai anak saudaraku, sesungguhnya kita melihat ke bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit, kemudian timbul pula bulan sabit. Jadi tiga bulan sabit yang berarti dalam dua bulan lamanya, sedang di rumah-rumah keluarga Rasulullah s.a.w. tidak pernah ada nyala api." Saya -yakni Urwah- berkata: "Hai bibi, maka apakah yang dapat menghidupkan Anda sekalian?" Aisyah radhiallahu 'anha menjawab: "Dua benda hitam, yaitu kurma dan air belaka, hanya saja Rasulullah s.a.w. mempunyai beberapa tetangga dari kaum Anshar, mereka itu mempunyai beberapa ekor unta manihah,[49] lalu mereka kirimkanlah air susunya itu kepada Rasulullah s.a.w. kemudian memberikan minuman itu kepada kita." (Muttafaq 'alaih)

491. Dari Said al-Maqburi dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia berjalan melalui kaum yang di hadapan mereka itu ada seekor kambing yang sedang dipanggang. Mereka memanggilnya, tetapi ia enggan untuk ikut memakannya dan ia berkata: "Rasulullah s.a.w. keluar dari dunia -yakni wafat- dan tidak pernah kenyang dari roti gandum." (Riwayat Bukhari)

492. Dari Anas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. itu tidak pernah makan di atas meja sehingga beliau wafat, juga tidak pernah makan roti yang diperhaluskan buatannya sehingga beliau wafat." (Riwayat Bukhari)

Dalam riwayatnya Imam Bukhari yang lain disebutkan: "Juga beliau s.a.w. tidak pernah melihat kambing yang disamit dengan matanya sama sekali," disamit artinya dihilangkan bulu-bulunya lalu dibakar dengan kulitnya sekali. [50]

493. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Sungguh-sungguh saya pernah melihat Nabimu semua s.a.w. dan beliau tidak mendapatkan kurma bermutu rendahpun yang dapat digunakan untuk mengisi perutnya." (Riwayat Muslim) Daqal adalah kurma yang bermutu rendah.

494. Dari Sahal bin Sa'ad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat roti putih sama sekali sejak beliau di utus oleh Allah Ta'ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta'ala. Kepada Sahal ini ditanyakan: "Apakah di zaman Rasulullah s.a.w. itu engkau semua tidak mempunyai alat pengayak?" Ia menjawab: "Rasulullah s.a.w. tidak pernah melihat alat pengayak itu sejak beliau diutus oleh Allah Ta'ala sehingga dicabut ruhnya oleh Allah Ta'ala." Kepadanya ditanyakan lagi: "Bagaimana caranya engkau semua makan gandum kalau tidak diayak?" Ia menjawab: "Kita semua menumbuknya dan meniupkannya, kemudian beterbanganlah benda-benda yang dapat terbang daripadanya itu lalu mana yang tertinggal, maka itulah yang kami basahi untuk dijadikan adukan tepung -untuk membuat roti." (Riwayat Bukhari) Ucapannya Annaqi dengan fathahnya nun dan kasrahnya qaf serta syaddahnya ya' yaitu roti yang berwarna putih dan itulah yang disebut darmak. Tsarrainahu dengan tsa' mutsallatsah kemudian ra' musyaddadah lalu ya' mutsannat di bawahnya, lalu nun, artinya kita basahi dan kita jadikan adukan tepung -guna membuat roti.

495. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. pada suatu hari atau suatu malam keluar, kemudian tiba-tiba bertemu dengan Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma, lalu beliau bertanya: "Apakah yang menyebabkan engkau berdua keluar ini?" Keduanya menjawab: "Karena lapar ya Rasulullah." Beliau lalu bersabda: "Adapun saya, demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya yang menyebabkan saya keluar ini adalah sesuatu yang juga menyebabkan engkau berdua keluar itu -yakni sama-sama lapar-, Ayolah pergi." Keduanya pergi bersama beliau s.a.w., lalu mendatangi seorang lelaki dari kaum Anshar, tiba-tiba lelaki itu tidak sedang di rumahnya. Ketika istrinya melihat Nabi s.a.w., lalu berkata: Marhaban wa ahlan. Selamat datang di rumah ini dan harap mendapatkan keluarga yang baik. Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: "Di mana Fulan -suamimu?" Istrinya menjawab: "Ia pergi mencari air tawar untuk kita." Tiba-tiba di saat itu orang Anshar -suaminya itu- datang. Ia melihat kepada Rasulullah s.a.w. dan kedua orang sahabatnya, kemudian berkata: "Alhamdulillah. Tiada seorangpun yang pada hari ini mempunyai tamu-tamu yang lebih mulia daripada saya sendiri. Orang itu lalu pergi kemudian datang lagi menemui tamu-tamunya itu dengan membawa sebuah batang kurma -berlobang- berisikan kurma berwarna, kurma kering dan kurma basah. Iapun berkata: "Silahkanlah makan." Selanjutnya ia mengambil pisau, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jangan menyembelih yang mengandung air susu." Orang Anshar itu lalu menyembelih untuk tamu-tamunya itu, kemudian mereka makan kambing itu, juga kurma dari batang kurma tadi serta minum pulalah mereka. Setelah semuanya itu kenyang dan segar -tidak kehausan- lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya engkau semua akan ditanya dari kenikmatan yang engkau semua rasakan ini pada hari kiamat. Engkau semua dikeluarkan dari rumahmu oleh kelaparan. Kemudian engkau semua tidak kembali sehingga engkau semua memperoleh kenikmatan ini." (Riwayat Muslim) Ucapannya yasta'dzibu artinya mencari air tawar dan itulah air yang bagus. Al-'izdqu dengan kasrahnya 'ain dan sukunnya dzal mu'jamah, yaitu batang atau dahan -kurma dan lain-lain. Almudyatu dengan dhammahnya mim atau boleh pula dikasrahkan, yaitu pisau. Alhalub ialah binatang yang berisikan susu dalam teteknya. Pertanyaan mengenai kenikmatan ini adalah pertanyaan tentang banyak jumlahnya kenikmatan, bukan pertanyaan sebagai olok-olok dan penyiksaan. Wallahu a'lam. Adapun orang Anshar yang didatangi oleh Rasulullah s.a.w. serta kedua orang sahabatnya itu ialah Abul Haitsam bin at-Taihan. Demikianlah dalam sebuah Hadis yang dijelaskan menurut riwayat Tirmidzi dan lain-lain.

496. Dari Khalid bin Umar al-Adawi, katanya: "Utbah bin Ghazwan berkhutbah kepada kita dan ia adalah menjabat sebagai gubernur di Bashrah. Ia bertahmid kepada Allah serta memujiNya, kemudian berkata: "Amma ba'du, sesungguhnya dunia ini sudah memberitahukan akan kerusakannya dan akan menyingkir dengan cepatnya, maka daripadanya itu tidak akan tertinggal melainkan sisanya yang sedikit sekali, sebagaimana sisanya wadah yang dikumpulkan isinya itu oleh pemiliknya. Sesungguhnya engkau semua pasti berpindah dari dunia ini, ke perumahan yang tidak akan ada lenyapnya -yakni kekal. Maka dari itu berpindahlah dengan sebaik-baik bekal yang ada padamu semua. Sesungguhnya saja telah disebutkan kepada kita -oleh Nabi s.a.w.- bahwa sebuah batu yang dilemparkan dari tepi Jahanam itu lalu jatuh ke dalamnya sampai selama tujuhpuluh tahun, tetapi belum lagi mencapai dasarnya. Demi Allah, sesungguhnya Jahanam itu benar-benar akan dipenuhi, adakah engkau semua heran tentang itu? Juga sesungguhnya telah disebutkan kepada kita bahwasanya antara dua daun pintu dari beberapa daun pintu syurga itu adalah berjarak sejauh perjalanan empat puluh tahun. Sesungguhnya pula akan datang terhadap syurga itu suatu hari bahwa ia menjadi penuh padat karena sesaknya - yakni berjejal-jejal orang hendak memasukinya. Saya sendiri telah mengalami bahwa diri saya termasuk yang ketujuh dari tujuh orang yang menyertai Rasulullah s.a.w., yang kita tidak memiliki makanan apapun, melainkan daun-daunan pohon, sehingga banyaklah luka-luka yang timbul di rahang kita, kemudian saya mendapatkan selembar kain, lalu saya sobeklah kain itu untuk dibagikan antara saya sendiri dengan Sa'ad bin Malik, jadi saya bersarung dengan separuh kain itu dan Sa'ad juga bersarung dengan separuhnya lagi. Selanjutnya pada hari ini, seorang diantara kita berdua itu tidaklah menjabat melainkan sebagai seorang gubernur dari sebuah daerah dari sekian banyak daerah yang ada. Sesungguhnya saya mohon perlindungan kepada Allah kalau saya merasa dalam diri sendiri itu sebagai orang yang agung, sedang di sisi Allah hanyalah kecil belaka." (Riwayat Muslim) Ucapannya adzanat, dengan madnya alif, artinya memberitahukan. Shurmun dengan dhammahnya dhad yaitu putus atau lenyap Wallat hadzdzaa dengan ha' muhmalah yang difathahkan lalu dzal mu'jamah musyaddadah lalu alif mamdudah, artinya cepat. Ashshubabah dengan dhammahnya shad muhmalah, artinya sisa yang sedikit. Yatashabbuba dengan syaddahnya ba' sebelum ha' artinya mengumpulkannya. Alkazhizh, artinya yang banyak serta penuh padat. Qarihat dengan fathahnya qaf dan kasrahnya ra', artinya di tempat itu banyak luka-lukanya.

497. Dari Abu Musaal-Asy'ari r.a., katanya: "Aisyah radhiallahu 'anha mengeluarkan untuk kita -maksudnya agar kita dapat melihatnya- sebuah baju dan sarung kasar, lalu ia berkata: "Rasulullah s.a.w. dicabut ruhnya sewaktu mengenakan kedua pakaian ini." (Muttafaq 'alaih)

498. Dari Sa'ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: "Sesungguhnya saya itu pertama-tama orang Arab yang melempar dengan panahnya -untuk- fisabilillah. Kita semua waktu itu berperang beserta Rasulullah s.a.w. dan kita tidak mempunyai makanan sedikitpun melainkan daun pohon hublah dan daun pohon samurini, sehingga seorang dari kita itu sesungguhnya mengeluarkan kotoran besar sebagaimana keadaan kambing kalau mengeluarkan kotoran besarnya dan tidak dapat bercampur dengan lainnya -yakni bulat-bulat serta kering, karena tidak ada yang dimakan." (Muttafaq 'alaih) Alhublah dengan dhammahnya ha' dan sukunnya ba' muwah-hadah, juga samur adalah dua macam pohon-pohonan yang terkenal di daerah badiah yakni tanah Arab bagian pedalaman.

499. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad ini makanan sekadar menutup kelaparan." (Muttafaq 'alaih) Ahli lughat dan gharib -yakni yang memperbincangkan mufradat dari al-Quran dan al-Hadis- mengatakan, bahwa artinya qut ialah sesuatu yang dimakan untuk menutup sisa hidup.

500. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Demi Zat yang tiada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya bahwa saya menyandarkan hatiku ke bumi karena kelaparan dan sesungguhnya pula bahwa saya mengikatkan batu pada perut saya karena kelaparan. Sebenarnya saya pernah duduk-duduk pada suatu hari di jalanan orang-orang yang sama keluar melalui jalanan itu -untuk mencari nafkahnya masing-masing. Kemudian Nabi s.a.w. berjalan melalui tempat saya dan beliau tersenyum ketika melihat saya, karena mengetahui keadaan dan hal ihwal yang ada dalam wajahku dan diriku, kemudian beliau bersabda: "Abu Hir." Saya menjawab: "Labbaik ya Rasulullah." Beliau bersabda lagi: "Mari ikut," dan beliau terus berlalu dan saya mengikutinya. Selanjutnya beliau masuklah di rumah keluarganya, saya mohon izin lalu beliau mengizinkan masuk untukku. Sayapun masuklah, di situ beliau menemukan susu dalam gelas. Beliau bertanya: "Dari manakah susu ini?" Keluarganya berkata: "Fulan atau Fulanah itu menghadiahkan untuk Tuan." Beliau bersabda: "Abu Hir." Saya menjawab: "Labbaik ya Rasulullah." Beliau bersabda pula: "Susullah para ahlush shuffah, lalu panggillah mereka untuk datang padaku." Abu Hurairah berkata: "Ahlush shuffah itu adalah merupakan tamu-tamu Islam, karena tidak bertempat pada sesuatu keluarga, tidak pula berharta dan tidak berkerabat pada seorangpun. Jikalau ada sedekah -zakat- yang datang pada Nabi s.a.w. lalu sedekah -atau zakat- itu dikirimkan semuanya oleh beliau kepada mereka itu dan beliau sendiri tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi kalau beliau menerima hadiah, maka dikirimkanlah kepada orang-orang itu dan beliau sendiri mengambil sebagian daripadanya. Jadi beliau bersama-sama dengan para ahlush shuffah itu untuk menggunakannya." Perintah Nabi s.a.w. memanggil ahlush shuffah itu tidak mengenakkan hati saya dan oleh sebab itu saya berkata: "Apa hubungannya susu ini untuk diberikan -kepada- ahlush shuffah. Saya adalah lebih berhak untuk memperoleh susu ini dengan sekali minuman saja, agar saya dapat merasa kuat tubuhku." Kemudian, jikalau orang-orang itu datang, Nabi s.a.w. tentu menyuruh saya agar saya memberikan itu kepada mereka. Barangkali tidak akan dapat sampai padaku -yakni bahwa saya tidak memperoleh bagian- susu itu, tetapi juga tidak ada jalan lain kecuali mentaati Allah dan mentaati RasulNya s.a.w. Oleh karena itu mereka saya datangi dan saya panggillah semuanya. Mereka menghadap dan meminta izin, lalu Nabi s.a.w. mengizinkan mereka masuk, juga sama mengambil tempat duduk sendiri-sendiri dalam rumah. Beliau lalu bersabda: "Abu Hir." Saya menjawab: "Labbaik ya Rasulullah." Beliau bersabda lagi: "Ambillah susu itu dan berikanlah kepada mereka." Abu Hurairah berkata: "Saya lalu mengambil gelas, kemudian saya berikan pada seorang dulu. Ia minum sampai kenyang minumnya lalu gelas dikembalikan. Seterusnya saya berikan kepada yang lain, ia pun minumlah sampai kenyang pula minumnya, lalu dikembalikanlah gelasnya, sehingga akhirnya sampai giliran saya memberikan itu kepada Nabi s.a.w., sedang orang-orang ahlush shuffah itu sudah puas minum semuanya. Beliau s.a.w. mengambil gelas lalu diletakkan di tangannya, kemudian beliau melihat saya dan tersenyum, kemudian bersabda: "Abu Hir." Saya menjawab: "Labbaik ya Rasulullah." Beliau bersabda pula: "Sekarang tinggallah saya dan engkau -yang belum minum." Saya menjawab: "Benar Tuan, ya Rasulullah." Beliau bersabda: "Duduklah dan minumlah." Saya pun duduklah lalu saya minum. Beliau bersabda lagi: "Minumlah lagi." Sayapun minumlah. Beliau tidak henti-hentinya bersabda: "Minumlah lagi," sehingga saya berkata: "Tidak, demi Allah yang mengutus Tuan dengan benar, saya sudah tidak mendapatkan jalan lagi untuk minum itu -artinya sudah amat kenyang minumnya itu. Setelah itu beliau bersabda: "Kalau begitu, berikanlah saya gelas itu." Gelaspun saya berikan, kemudian beliau memuji kepada Allah Ta'ala dan membaca bismillah di permulaan minumnya lalu beliau minumlah sisanya itu." (Riwayat Bukhari)

501. Dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Sesungguhnya saya pernah mengalami diriku bahwa saya jatuh tersungkur antara mimbarnya Rasulullah s.a.w. dengan biliknya Aisyah radhiallahu 'anha sampai tidak sadarkan diri. Kemudian datanglah padaku seorang yang datang, lalu ia meletakkan kakinya di atas leher saya dan ia menyangka bahwa sesungguhnya saya adalah orang gila, padahal saya tidaklah kejangkitan penyakit gila, tetapi jatuh saya tadi hanyalah karena kelaparan." (Riwayat Bukhari)

502. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. wafat sedang baju besinya sedang digadaikan pada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha' -gantang- dari gandum." (Muttafaq 'alaih)

503. Dari Anas r.a., katanya: "Nabi s.a.w. menggadaikan baju besinya dengan gandum dan saya berjalan ke tempat Nabi s.a.w. dengan membawa roti gandum dan lemak cair yang sudah berubah keadaannya. Sungguh-sungguh saya mendengar beliau s.a.w. bersabda: "Tiada sesuatupun pada pagi-pagi ini melainkan hanya segantang untuk para keluarga Muhammad dan tidak ada untuk sore harinya nanti kecuali segantang pula." Padahal seluruh keluarganya itu adalah sembilan rumah." (Riwayat Bukhari)

504. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Sungguh-sungguh saya telah melihat tujuh puluh orang dari golongan ahlush shuffah -kaum fakir miskin di Madinah, tiada seorangpun diantara mereka itu yang berselendang. Ada kalanya mengenakan sarung dan ada kalanya pula baju. Mereka mengikatkan itu pada leher-lehernya. Di antaranya ada yang sampai pada separuh kedua betisnya dan diantaranya ada yang sampai pada kedua mata kakinya, lalu dikumpulkan -kedua belahannya itu- karena enggan kalau sampai terlihat auratnya." (Riwayat Bukhari)

505. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Hamparan Rasulullah s.a.w. itu terbuat dari kulit dan isinya adalah sabut." (Riwayat Bukhari)

506. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Kita semua duduk-duduk bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba datanglah seorang lelaki dari kaum Anshar, lalu ia memberi salam pada beliau itu. kemudian orang Anshar tadi menyingkir. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai saudara kaum Anshar, bagaimanakah keadaan saudaraku Sa'ad[51] bin Ubadah?" Orang itu menjawab: "Baik-baik saja." Beliau s.a.w, bersabda lagi: "Siapakah diantara engkau semua yang meninjaunya?" Kemudian beliau s.a.w. berdiri dan kitapun berdiri bersamanya dan kita berjumlah sepuluh orang lebih -tiga sampai sembilan. Kita semua yang pergi itu tidak berterompah -sandal-, tidak pula bersepatu, bersongkok ataupun bergamis, sedangkan kita berjalan di tempat yang tandus, hampir tidak ada tanamannya, sehingga datanglah kita di tempatnya. Kaumnya Sa'ad bin Ubadah lalu mundur dari sekelilingnya, sehingga mendekatlah Rasulullah serta semua sahabat yang menyertainya." (Riwayat Muslim)

507. Dari Imran bin al-Hushain radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Sebaik-baik engkau sekalian adalah orang-orang yang sekurun -semasa- denganku, kemudian yang mengikutinya -yang datang sesudahnya- kemudian orang-orang yang mengikutnya." Imran berkata: "Saya tidak tahu, adakah Nabi s.a.w. mengucapkannya itu dua atau tiga kali." Nabi s.a.w. selanjutnya menyabdakan: "Kemudian akan datanglah sesudah mereka itu sesuatu kaum yang menjadi saksi, tetapi tidak dapat dipercaya kesaksiannya. Mereka juga berkhianat dan tidak dapat dipercaya amanatnya, demikian pula mereka bernazar, tetapi tidak suka memenuhi nazarnya dan tampaklah kegemukan dalam tubuh mereka. -yakni gemuk yang disebabkan karena terlampau banyak makan, minum dan bersenang-senang dan bukan gemuk karena kejadiannya memang gemuk." (Muttafaq 'alaih)

508. Dari Abu Umamah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai anak Adam, sesungguhnya jikalau engkau memberikan apa-apa yang kelebihan padamu, sebenarnya hal itu adalah lebih baik untukmu dan jikalau engkau tahan -tidak engkau berikan kepada siapapun, maka hal itu adalah menjadikan keburukan untukmu. Engkau tidak akan tercela karena adanya kecukupan -maksudnya menurut syariat engkau tidak akan dianggap salah, jikalau kehidupanmu itu dalam keadaan yang cukup dan tidak berlebih-lebihan. Lagi pula mulailah -dalam membelanjakan nafkah- kepada orang yang wajib engkau nafkahi." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

509. Dari Ubaidullah bin Mihshan al-Anshari al-Khathmi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa diantara engkau semua telah merasa aman -dari musuhnya- dalam dirinya, sehat dalam tubuhnya, memiliki keperluan hidup -makan, minum, obat dan apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya- pada hari itu, maka ia telah dikaruniai dunia dengan keseluruhan isinya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Sirbihi dengan kasrahnya sin muhmalah artinya ialah dirinya, ada yang mengatakan bahwa artinya itu ialah kaumnya.

510. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sungguh berbahagialah orang yang masuk Agama Islam serta diberi rezeki cukup dan diberi sifat qana'ah -suka menerima- dengan apa-apa yang telah dikaruniakan oleh Allah." (Riwayat Muslim)

511. Dari Abu Muhammad yaitu Fadhalah bin Ubaid al-Anshari r.a. bahwasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Untung besarlah kehidupan seorang yang telah dikarunia petunjuk untuk memasuki Agama Islam, sedang hidupnya itu adalah dalam keadaan cukup dan pula ia bersifat qana'ah -suka menerima." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

512. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. dalam beberapa malam yang berturut-turut itu bermalam dalam keadaan terlipat -maksudnya terlipat perutnya karena lapar, sedang para keluarganya tidak mendapatkan sesuatu untuk makan malam, juga sebagian banyak roti yang dimakan itu adalah roti terbuat dari gandum." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

513. Dari Fadhalah bin Ubaid r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila bershalat dengan para manusia, maka ada beberapa lelaki yang jatuh tersungkur dari berdiri mereka itu ketika dalam shalatnya, disebabkan karena kefakiran yang sangat -yakni karena sangatnya kelaparan sehingga tidak kuat berdiri-. Mereka itu adalah ahlush shuffah, sehingga orang A'rab -orang-orang Arab dari pedalaman- mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang gila. Kemudian apabila Rasulullah s.a.w. telah selesai bershalat, lalu menghadap ke arah mereka itu dan berkata: "Andaikata engkau semua mengetahui apa yang disediakan untukmu semua di sisi Allah Ta'ala, sesungguhnya engkau semua senang kalau engkau semua bertambah kefakiran dan hajatnya -dari sekarang ini. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih. Alkhashashab ialah kekurangan dan kelaparan yang sangat.

514. Dari Abu Karimah, yaitu al-Miqdad bin Ma'dikariba r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah seorang memenuhi sesuatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah sebenarnya seorang itu makan beberapa suapan yang dapat mendirikan -menguatkan- tulang rusuknya. Maka jikalau makanan itu harus diisikannya, maka sepertiga hendaklah untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk pernafasannya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

515. Dari Abu Umamah, yaitu Iyas bin Tsa'laba al-Anshari al-Harits r.a., katanya: "Para sahabat Rasulullah s.a.w. pada suatu hari menyebut-nyebutkan di sisi beliau itu tentang hal dunia -yakni perihal kesenangan, kekayaan dan lain-lain. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidakkah engkau semua mendengar, tidakkah engkau semua mendengar bahwa badzadzah itu termasuk keimanan, bahwa badzadzah itu termasuk keimanan." Yakni taqahhul. (Riwayat Abu Dawud) Albadzadzah dengan ba' muwahhadah dan dua dzal yang mu'jamah artinya ialah keadaan yang serba kusut dan meninggalkan pakaian yang indah-indah. Adapun taqahhul, dengan qaf dan ha' maka para ahli Lughat mengatakan bahwa orang yang bertaqahhul ialah orang yang kering kulitnya karena keadaan hidupnya yang serba kasar dan meninggalkan kemewahan dalam segala hal.

516. Dari Abu Abdillah bin Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma, katanya: "Kita dikirimkan oleh Rasulullah s.a.w. -ke medan peperangan- dan mengangkat Abu Ubaidah r.a. sebagai amir -panglima- untuk memimpin kita, guna menemui kafilah orang-orang Quraisy. Kita semua membawa bekal sebuah tempat berisi kurma dan kita tidak menemukan selain itu. Abu Ubaidah memberikan kita sekurma demi sekurma. Kepada kita ditanyakan -oleh orang lain: "Bagaimanakah engkau semua berbuat dengan sebiji kurma itu." Jawabnya: "Kita mengisapnya sebagaimana seorang anak bayi mengisap tetek. Kemudian kita minum air setelah itu. Keadaan sedemikian ini mencukupi kita untuk sehari itu sampai malam. Kita juga memukul daun-daunan dengan tongkat-tongkat kita, lalu kita basahi dengan air, kemudian kita makanlah itu. Seterusnya kita berangkat ke pantai laut, lalu tampaklah di atas kita di pantai laut tadi, seolah-olah seperti tumpukan pasir yang besar, lalu kitapun mendatanginya. Tiba-tiba yang tampak itu adalah seekor binatang yang dinamakan ikan lodan -hiu. Abu Ubaidah lalu berkata: "Bangkai," kemudian ia berkata lagi: "Oh tidak -maksud-nya tidak haram diambil dagingnya untuk dimakan-. Bahkan kita ini adalah utusan-utusan dari Rasulullah s.a.w. dan dalam berjuang fisabilillah. Engkau semua adalah dalam keadaan terpaksa. Maka dari itu makanlah olehmu semua." Kita semua berdiam -sambil makan ikan tersebut- dalam waktu sebulan lamanya dan jumlah kita seluruhnya adalah tiga ratus orang, sehingga kita semuapun menjadi gemuklah. Sesungguhnya saya melihat bahwa kita semua menciduk dari lobang matanya itu dengan beberapa gayung akan minyaknya dan kita memotong daripadanya itu beberapa potongan daging sebesar lembu atau kira-kira selembu-selembu besarnya. Sungguh-sungguh Abu Ubaidah menyuruh seorang dari kita sebanyak tiga belas orang, diperintah olehnya supaya duduk dalam lobang matanya dan supaya mengambil tulang rusuknya, lalu ditegakkan dan dimuatkan pada unta yang terbesar yang ada beserta kita. Ia berjalan di bawahnya. Kita juga mengambil bekal dari dagingnya yang telah dikeringkan -dijadikan dendeng. Setelah kita semua datang di Madinah, kita mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu kita ceritakanlah hal itu kepada beliau, lalu beliau bersabda: "Itu adalah rezeki yang dikeluarkan oleh Allah untukmu semua. Adakah engkau semua membawa sedikit dagingnya, supaya dapat memberikan sedekahnya untuk makanan kita?" Kita semua mengirimkan kepada Rasulullah s.a.w. sebagian dagingnya itu, kemudian beliau s.a.w. memakannya." (Riwayat Muslim) Aljirab ialah wadah dari kulit yang sudah dapat dimaklumi. Lafaz ini dibaca dengan kasrahnya jim atau boleh pula dengan fathahnya, tetapi dengan kasrah adalah lebih fashih. Namashshuha dengan fathahnya mim. Alkhabath ialah daun-daunan dari pohon yang dikenal dan dimakan oleh unta. Alkatsib ialah timbunan dari pasir. Alwaqbu dengan fathahnya wawu dan saknahnya qaf dan sesudahnya itu ialah ba' muwahhadah, ialah lobang mata. Alqilal ialah gayung. Aifidar dengan kasrahnya fa' dan fathahnya dal yaitu beberapa potong. Rahala ba'ira yaitu memberikan beban pada unta. Alwasyaiq dengan syin mu'jamah dan qaf ialah daging yang dipotong-potong untuk dikeringkan. Wallahu a'lam.

517. Dari Asma' binti Yazid radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ujung lengan baju gamisnya Rasulullah s.a.w. itu adalah sampai di pergelangan tangan." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. Arush-ghu dengan menggunakan shad dan Arrus-ghu dengan menggunakan sin, juga boleh, artinya ialah pergelangan antara tapak tangan dengan lengan tangan bagian bawah.

518. Dari Jabir r.a., katanya: "Sesungguhnya kita semua pada hari khandak -menggali tanah untuk perlindungan diri sebelum timbulnya peperangan dan peperangan di waktu itu disebut perang khandak, artinya parit-, kita semua menggali. Kemudian pada penggalian itu terhalang oleh adanya gumpaian tanah yang keras. Para sahabat sama-sama mendatangi Nabi s.a.w., lalu berkata: "Tanah keras ini menghalang-halangi untuk kelanjutan penggalian parit." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Saya akan turun." Selanjutnya beliau s.a.w. terus berdiri, sedang perut beliau itu diikat di situ dengan sebuah batu -karena kelaparan. Kita semua memang sudah selama tiga hari itu tidak merasakan rasa makanan apapun. Nabi s.a.w. lalu mengambil cangkul, terus memukulnya, maka kembalilah tanah keras itu bagaikan tumpukan pasir yang hancur lebur. Kemudian saya berkata: "Ya Rasulullah, berilah saya izin untuk pulang ke rumah." Seterusnya saya lalu berkata kepada istriku: "Saya telah melihat sesuatu dalam diri Nabi s.a.w. -yakni pengganjalan perut dengan batu itu- yang tidak dapat disabarkan lagi. Maka adakah engkau mempunyai sesuatu -yang dapat dimakan?" Istrinya menjawab: "Saya mempunyai gandum dan kambing perempuan. Kambing itu lalu saya sembelih, sedang istriku menumbuk gandum, sehingga dagingnya itu kita letakkan dalam periuk. Kemudian saya mendatangi Nabi s.a.w., sedangkan adukan makanan itu telah pecah -yakni sudah lumat dan halus- dan kuali yang ada diantara batu-batu itu telah hampir masak isinya. Saya berkata kepada beliau s.a.w.: "Saya mempunyai sedikit makanan ya Rasulullah, maka dari itu silakan Tuan berdiri -yakni pergi ke tempat saya- bersama seorang atau dua orang saja. Beliau bertanya: "Berapa banyaknya itu?" Saya menyebutkan sebagaimana adanya -yakni kambing dengan gandum yang cukup untuk beberapa orang saja. Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Banyak itu dan enak sekali, katakanlah kepada istrimu, janganlah diangkat dulu periuknya, juga jangan pula diambil roti itu dari dapur, sehingga saya datang nanti." Seterusnya beliau s.a.w. bersabda: "Berdirilah engkau semua," maka berdirilah semua kaum Muhajirin dan Anshar -yang ikut membuat parit-. Saya masuk kepada istriku lalu saya berkata: "Celaka ini. Nabi s.a.w. datang dengan semua kaum Muhajirin dan Anshar, jadi semua yang menyertainya." Istrinya berkata: "Adakah beliau menanyakan banyaknya makanan?" Saya berkata: "Ya." [52] Seterusnya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Masuklah engkau sekalian dan jangan berjejal-jejalan." Beliau s.a.w. mulai memotong roti dan diberikanlah pula di situ dagingnya dan selalu menutupi periuk dan dapur itu apabila beliau mengambil daripadanya dan mendekatkan kepada sahabat-sahabatnya itu, kemudian ditariklah kualinya itu -sesudah diambilkan isinya. Tidak henti-hentinya beliau s.a.w. memotong roti itu dan menciduk kuah sehingga sekalian sahabatnya itu kenyang semua dan masih ada pula sisanya dalam kuali. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Makanlah ini dan berikanlah hadiah -kepada orang-orang lain seperti tetangga, sebab sesungguhnya para manusia itu terkena bencana kelaparan-. (Muttafaq 'alaih) 

Dalam riwayat lain disebutkan: Jabir berkata: "Ketika parit digali, maka saya melihat adalah kelaparan yang sangat dalam diri Nabi s.a.w. Lalu saya kembali ke tempat istriku dan saya berkata: "Adakah engkau mempunyai sesuatu yang dapat dimakan? Karena sesungguhnya saya melihat adanya kelaparan yang sangat dalam diri Rasulullah s.a.w." Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang di dalamnya ada segantang gandum, sedang kita juga mempunyai seekor binatang kambing kecil yang telah lulut. Binatang itu lalu saya sembelih dan istriku menumbuk gandum. Istriku telah selesai pekerjaannya sebagaimana sayapun selesai pula, lalu saya potonglah dalam kualinya, kemudian saya kembali menuju ke tempat Rasulullah s.a.w. Istriku berkata: "Jangan engkau membuat aku tampak celaka, -sebab hanya mempunyai makanan sedikit dan ini menunjukkan kemiskinannya- kepada Rasulullah s.a.w. dan orang-orang yang menyertainya nanti." Selanjutnya saya lalu mendatangi Nabi s.a.w. dan saya membisikinya. Saya berkata: "Ya Rasulullah, kita menyembelih seekor kambing kecil untuk makanan kita dan saya juga telah menumbuk segantang gandum. Maka dari itu, silakan Tuan datang di tempat saya bersama beberapa orang saja yang akan menyertai Tuan." Tiba-tiba Nabi s.a.w. berteriak dan bersabda: "Hai sekalian penggali parit, sesungguhnya Jabir telah membuat sesuatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Maka marilah kita semua ke rumahnya." Kemudian Nabi s.a.w. bersabda -kepada Jabir-: "Janganlah sekali-kali engkau turunkan kualimu dan jangan pula dijadikan roti dulu adukan gandummu itu, sehingga saya datang." Saya datang ke rumah dan Nabi s.a.w. juga datang sambil menyuruh orang-orang banyak datang pula ke situ. Begitulah saya akhirnya datang di tempat istriku. Istriku berkata: "Bagaimana engkau ini, bagaimana engkau ini," maksudnya istrinya itu menyalahkan suaminya, mengapa membawa orang-orang sebanyak itu. Saya berkata: "Saya telah mengerjakan semua yang engkau katakan." Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kita, lalu Nabi s.a.w. berludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya, kemudian menuju ke tempat kuah kita, lalu berludah pula di situ dan juga mendoakan keberkahannya, kemudian bersabda: "Panggillah seorang tukang membuat roti, supaya ia dapat menolong membuat roti bersamamu -dan yang disuruh ini adalah istri Jabir- dan pula ciduklah dari kualimu, tetapi janganlah kuali itu diturunkan." Orang-orang yang datang di saat itu adalah sebanyak seribu orang. Saya bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya orang-orang itu semuanya dapat makan, sehingga mereka meninggalkannya dan pergi dari rumah saya itu, sedang sesungguhnya kuali kita masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana tadinya- sebelum diambil isinya oleh orang-orang banyak, juga sesungguhnya adukan roti kita masih tetap menjadi roti -sebanyak asalnya."

Keterangan:
Ucapannya: Aradhat kud-yatun, dengan dhammahnya kaf dan sukunnya dal dan dengan ya' yang mutsannat di bawahnya, artinya ialah segumpal tanah yang keras dan tebal yang tidak dapat dicairkan oleh kapak. Atkatsib asalnya ialah tumpukan pasir dan yang dimaksudkan di sini ialah telah menjadi tanah yang halus, itulah artinya lafaz ah-yala. At-atsafiyyu ialah batu-batu yang di atasnya itu diletakkan kuali untuk memasak. Tadhaghatbu artinya berjejal-jejalan. Almaja'ah ialah kelaparan, dengan fathahnya mim. Al-khamash dengan fathahnya kha' mu'jamah dan mim, artinya ialah lapar. Inkafa'tu artinya saya balik dan kembali. Albuhaimah dengan dhammahnya ba' adalah tash-ghirnya lafaz bahmah, yaitu kambing betina, yakni al'anaq dengan fathahnya 'ain. Addajin yaitu binatang yang sudah lulut di rumah. Assur ialah makanan yang diundanglah untuk memakannya itu beberapa orang dan kata ini adalah dari bahasa Persi - Iran. Hayyahalan artinya marilah. Ucapannya bika wa bika artinya bahwa istrinya itu membantah suaminya serta memakinya karena ia meyakinkan bahwa makanan yang dimilikinya itu tentu tidak cukup untuk orang-orang sebanyak itu. Jadi wanita itu merasa malu dan agaknya tersamarlah untuknya apa yang dijadikan kemuliaan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi-Nya s.a.w. dari mu'jizat yang nyata dan pertanda yang jelas itu. Basaqa sama dengan basbaqa atau bazaqa yakni meludah dan ini ada tiga lughatnya, amada dengan fathahnya mim yakni sengaja atau bermaksud Iqdabl artinya ciduklah, sedang atmiqdahab artinya ciduk atau gayung, tagbitbtbu artinya bahwa karena mendidihnya itu keluarlah suaranya. Wallahu a'lam.

519. Dari Anas r.a., katanya: "Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: "Saya mendengar suara Rasulullah s.a.w. itu lemah sekali dan saya mengetahui bahwa beliau adalah dalam keadaan lapar. Maka dari itu, apakah engkau tidak mempunyai sesuatu untuk dimakan?" Ummu Sulaim lalu mengeluarkan beberapa bulatan dari gandum, kemudian ia mengambil kerudungnya, kemudian ia melipatkan roti dengan sebagian kerudung tadi, lalu memasukkannya di bawah bajuku dan mengembalikannya padaku dengan sebagian lagi -maksudnya bahwa Ummu Sulaim itu melipat roti dengan sebagian kerudung dan dengan sebagiannya lagi dilipatkan untuk Anas-. Seterusnya Ummu Sulaim menyuruh saya -Anas- untuk menemui Rasulullah s.a.w., lalu saya pergi dan saya menemui Rasulullah s.a.w. sedang duduk di dalam masjid disertai oleh orang-orang banyak. Seterusnya lalu saya berdiri di muka orang-orang itu, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Adakah engkau diutus oleh Abu Thalhah." Saya menjawab: "Ya." Beliau bersabda lagi: "Apakah untuk sesuatu makanan?" Saya menjawab: "Ya." Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda kepada sahabat-sahabatnya yang ada di masjid: "Berdirilah engkau semua dan berangkatlah." Saya juga berangkat mengikuti mereka itu, sehingga datanglah saya kepada Abu Thalhah, lalu saya memberitahukan padanya -bahwa Nabi s.a.w. mengajak orang banyak. Abu Thalhah berkata: "Hai Ummu Sulaim. Rasulullah s.a.w. telah datang dengan orang-orang banyak, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk memberi makanan kepada mereka semuanya itu." Istrinya berkata: "Allah dan RasulNya adalah lebih mengetahui itu." Abu Thalhah lalu berangkat sehingga bertemu dengan Rasulullah s.a.w., kemudian berhadapanlah Rasulullah s.a.w. dengannya sehingga keduanya itu masuk rumah. Selanjutnya Rasulullah bersabda: "Bawa saya kemari apa yang engkau punyai, hai Ummu Sulaim." Wanita itu datang dengan roti tersebut di atas, lalu Rasulullah s.a.w. menyuruh supaya dipotong-potongkan dan Ummu Sulaim memeraskan di atas roti itu suatu tempat berisi samin, maka itulah yang merupakan lauknya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda sekehendak yang beliau sabdakan, selanjutnya lalu bersabda pula: "Izinkanlah masuk sepuluh orang." Orang sepuluh itu diizinkan masuk lalu mereka semuanya makan sehingga kenyang, lalu keluarlah setelah itu. Seterusnya beliau bersabda lagi: "Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi." Orang sepuluh itu diizinkan lalu mereka makan sehingga kenyang kemudian keluarlah mereka itu pula. Beliau s.a.w. bersabda lagi: "Izinkanlah masuk sepuluh orang lagi." Demikianlah sehingga seluruh kaum -yakni yang menyertai Nabi s.a.w. dari masjid- dapat makan sehingga kenyang semuanya, sedangkan jumlah kaum itu ada tujuh puluh atau delapan puluh orang." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan: "Maka tidak henti-hentinya beliau s.a.w. memasukkan sepuluh orang dan mengeluarkan sepuluh orang, sehingga tidak seorangpun yang tertinggal, melainkan ia tentu telah makan sehingga kenyang, kemudian dikumpulkanlah kelebihan makanan itu, tetapi tiba-tiba banyaknya makanan tersebut adalah sama seperti keadaan ketika orang-orang banyak belum makan daripadanya itu."

Dalam riwayat lain disebutkan pula: "Maka makanlah orang-orang itu sepuluh orang demi sepuluh orang, sehingga yang sedemikian itu dilaksanakan untuk sebanyak delapan puluh orang. Kemudian Nabi s.a.w. makanlah setelah orang-orang itu semuanya, juga semua keluarga rumah dan mereka masih meninggalkan sisa pula." Dalam riwayat lain lagi dikatakan: "Kemudian mereka masih meninggalkan sisa yang cukup untuk disampaikan kepada tetangganya."


Dalam riwayat lainnya lagi dikatakan: Dari Anas r.a., katanya: "Saya datang kepada Rasulullah s.a.w. pada suatu hari, kemudian saya menemui beliau s.a.w. itu sedang duduk dengan sahabat-sahabatnya dan di perutnya diikatkanlah dengan suatu ikatan -seperti batu dan lain-lain untuk menahan lapar-. Lalu saya bertanya kepada salah seorang sahabatnya: "Mengapa Rasulullah s.a.w. mengikat perutnya." Orang-orang sama berkata: "Karena lapar." Oleh sebab itu saya lalu pergi kepada Abu Thalhah, yaitu suaminya Ummu Sulaim binti Milhan, kemudian saya berkata: "Aduh bapak, saya sungguh-sungguh telah melihat Rasulullah s.a.w. mengikat perutnya dengan suatu ikatan, lalu saya bertanya kepada sebagian sahabat-sahabatnya dan mereka mengatakan bahwa hal itu karena beliau lapar." Abu Thalhah lalu masuk menemui ibuku -yakni Ummu Sulaim, kemudian bertanya: "Adakah sesuatu yang dapat dimakan?" Ummu Sulaim menjawab: "Ya, ada. Saya mempunyai beberapa potong roti dan beberapa buah kurma. Jika Rasulullah s.a.w. datang ke tempat kita sendirian, tentu dapatlah kita mengenyangkan beliau itu, tetapi jikalau beliau datang dengan disertai orang lain, maka makanan kita terlampau sedikit untuk dimakan orang-orang itu." Seterusnya Anas menyebutkan kelengkapan hadits ini.

Bab 55. Keutamaan Zuhud Di Dunia Dan Anjuran Untuk Mempersedikit Keduniaan Dan Keutamaan Kefakiran

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia ini adalah seperti air yang Kami turunkan dari langit, kemudian tumbuhlah karenanya itu tumbuh-tumbuhan di bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan ternak. Sehingga setelah bumi itu mengenakan pakaian hiasannya dan menjadi indah permai dan penduduknya mengira, bahwa mereka akan dapat menguasainya, maka datanglah perintah Kami di waktu malam atau siang -untuk merusakkan semua itu sebagai siksa-, lalu Kami jadikanlah bumi itu sebagai ladang padi yang telah dituai, seolah-olah kemarinnya tidak terjadi sesuatu apapun. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat Kami kepada orang-orang yang berfikir." (Yunus: 24)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Dan buatlah untuk mereka perumpamaan kehidupan dunia, sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit dan karenanya lalu tumbuhlah tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian setelah subur lalu menjadi kering yang dapat diterbangkan oleh angin dan Allah itu adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta benda dan anak-anak itu adalah perhiasan kehidupan dunia dan amalan-amalan yang baik yang kekal pahalanya adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih bagus pula harapannya." (al-Kahf: 45-46)

Juga Allah Ta'afa berfirman: "Ketahuilah olehmu semua, bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda-gurau, perhiasan dan bermegah-megah antara sesamamu, berlomba banyak kekayaan dan anak-anak. Perumpamaannya adalah seperti hujan yang mengherankan orang-orang kafir -yang menjadi petani- melihat tumbuh tanamannya, kemudian menjadi kering lalu engkau lihat menjadi kuning warnanya, kemudian menjadi hancur binasa. Dan di akhirat siksa yang amat sangat untuk mereka itu -yang berbuat kesalahan, juga pengampunan dari Allah serta keridhaan -bagi orang-orang yang berbuat kebaikan- dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah kesenangan tipuan belaka." (al-Hadid: 20)

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Diperhiaskanlah untuk para manusia itu -yakni diberi perasaan bernafsu- untuk mencintai kesyahwatan-kesyahwatan dari para wanita, anak-anak, kekayaan yang berlimpah-limpah dari emas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Demikian itulah kesenangan kehidupan dunia dan di sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya." (ali-Imran: 14)

Allah Ta'ala berfirman pula: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar. Maka dari itu, janganlah engkau semua tertipu oleh kehidupan dunia ini dan janganlah sekali-kali kepercayaanmu kepada Allah itu tertipu oleh sesuatu yang amat pandai menipu." (Fathir: 5)

Juga Allah Ta'ala berfirman: "Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan mencari kekayaan, sehingga engkau semua mengunjungi kubur -yakni sampai mati. Jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui, kemudian sekali lagi jangan begitu, nanti engkau semua akan mengetahui -mana yang sebenarnya salah dan mana yang tidak. Jangan begitu, andaikata engkau semua dapat mengetahui dengan ilmu yakin, tentu engkau semua tidak berbuat seperti di atas itu." (at-Takatsur: 1-5)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda-gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya perumahan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jikalau mereka mengetahui." (al-Ankabut: 64)

Ayat-ayat dalam bab ini amat banyak sekali dan sudah masyhur.

Keterangan:
Ada sementara orang yang berpendapat bahwa yang dinamakan zuhud itu ialah dengan menyiksa diri sendiri, makan dan minum harus dikurangi sesangat-sangatnya, demikian pula tidur dan istirahatnya, pakaian cukup yang jelek-jelek, rambut biarkan kusut-masai tanpa disisir, mandi pun harus jarang-jarang, berjalan harus selalu menundukkan muka, tidak perlu bekerja keras-keras dan cukuplah dengan menerima belas kasihan orang lain, bertasbih sepanjang hari dan malam dan lain-lain kelakuan yang bukan-bukan. Jelaslah bahwa bukan yang sedemikian ini yang dikehendaki oleh Rasulullah s.a.w. dalam pengertian zuhud sebagaimana yang tercantum dalam ayat di atas. Memang zuhud itu apabila kita lakukan, pasti kita akan dicintai oleh Allah dan seluruh manusia. Nabi s.a.w. bersabda: "Berlaku zuhudlah di dunia, pasti dicintai Allah dan berlaku zuhudlah terhadap milik orang lain, pasti dicintai oleh sesama manusia." Maka dari itu yang sekarang perlu kita sadari sebaik-baiknya ialah, apakah yang dinamakan zuhud itu? Zuhud ialah meninggalkan ketamakan dalam urusan keduniawiyahan sehingga lupa ketaatan kepada Allah, lengah untuk mencari bekal hidup di akhirat nanti. Inilah artinya zuhud di dunia, ringkas saja bukan? Kalau ini dilakukan, pasti Allah mencintai kita. Selain zuhud sebagaimana pengertiannya di atas itu, hendaknya pula kita jangan ingin memiliki sesuatu yang bukan kepunyaan kita, sehingga timbul hasrat ingin merebut yang bukan hak kita itu. Boleh saja kita ingin mempunyai yang seperti milik orang lain, tetapi carilah yang lain dan jangan yang sudah menjadi milik orang lain itu dirampas. Inilah yang diartikan zuhud dengan apa yang ada pada para manusia. Kalau ini kita lakukan sudah pasti tidak seorangpun yang membenci kita. Kita tentu disukai sebab kita pandai bergaul dan menghormati milik orang. Demikianlah dua pengertian zuhud dalam Agama Islam. Maka apabila diartikan lebih dari ini, maka teranglah bahwa itu bukan berasal dari ajaran Allah Ta'ala dan RasulNya, tetapi buat-buatan manusia biasa atau mungkin penjiplakan dari agama lain atau dari ilmu yang tidak diridhai oleh Allah semacam klenik dan sebagainya. Lihatlah sejarah Rasulullah s.a.w. Beliau adalah sezuhud-zuhudnya manusia di dunia ini, tetapi beliau s.a.w. pula yang bersabda: "Badanmu itu wajib kamu penuhi haknya." Jadi makan minumnya, pakaiannya, kesenangannya dan lain-lain sebagainya. Beliau s.a.w. juga tidur dan beristirahat, kawin, bersenda-gurau, berkumpul dengan keluarganya dan lain-lain lagi. Singkatnya asalkan kita sudah berzuhud sebagaimana dua pengertian dalam ayat di atas dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-laranganNya, Insya Allah selamatlah hidup kita di dunia sampai di akhirat. Adapun Hadis-hadisnya, maka lebih banyak lagi untuk dapat diringkaskan, oleh sebab itu kami peringatkan sebagian saja dengan meninggalkan yang lainnya.

455. Dari 'Amr bin 'Auf al-Anshari r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengirimkan Abu 'Ubaidah al-Jarrah r.a. ke daerah Bahrain -sebuah daerah yang masuk wilayah Irak- dan kedatangannya ke situ ialah untuk mengambil pajak. Kemudian setelah selesai tugasnya, datanglah ia dengan membawa harta dari Bahrain itu. Kaum Anshar sama mendengar akan kedatangan Abu Ubaidah, mereka lalu menunaikan shalat fajar -yakni subuh- bersama Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. selesai bershalat, beliaupun lalu kembali, kemudian mereka menuju kepadanya untuk menemuinya. Rasulullah s.a.w. lalu tersenyum ketika melihat mereka itu terus bersabda: "Saya kira engkau semua sudah mendengar bahwasanya Abu Ubaidah tiba dari Bahrain dengan membawa sesuatu harta." Mereka menjawab: "Benar, ya Rasulullah." Beliau selanjutnya bersabda: "Bergembiralah engkau semua dan bolehlah mengharapkan sesuatu yang akan menyenangkan engkau semua. Demi Allah, bukannya kekafiran itu yang saya takutkan mengenai engkau semua, tetapi saya takut jikalau harta dunia ini diluaskan untukmu semua -yakni engkau semua menjadi kaya raya-, sebagaimana telah diluaskan untuk orang-orang yang sebelummu, kemudian engkau semua itu saling berlomba-lomba untuk mencarinya sebagaimana mereka juga berlomba-lomba untuk mengejarnya, lalu harta dunia itu akan merusakkan agamamu semua sebagaimana ia telah merusakkan agama mereka. (Muttafaq 'alaih)

456. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya -yakni bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (Muttafaq'alaih)

457. Dari Abu Said r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau -yakni menyenangkan sekali- dan sesungguhnya Allah menjadikan engkau semua sebagai pengganti di bumi itu -untuk mengolah dan memakmurkan. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau semua lakukan -untuk dibalas menurut masing-masing amalannya. Oleh sebab itu, bertaqwalah dalam mengemudikan harta dunia dan bertaqwalah dalam urusan kaum wanita." (Riwayat Muslim)

458. Dari Anas r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Ya Allah. Tidak ada kehidupan yang kekal melainkan kehidupan di akhirat." (Muttafaq 'alaih)

459. Dari Anas r.a. pula dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Ada tiga macam mengikuti mayat itu- ketika di bawa ke kubur, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan satu tetap tinggal menyertainya. Keluarga dan hartanya kembali sedang amalnya tetap mengikutinya." (Muttafaq 'alaih)

460. Dari Anas r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Akan didatangkanlah orang yang terenak kehidupannya di dunia dan ia termasuk golongan ahli neraka pada hari kiamat nanti, lalu diceburkan dalam neraka sekali ceburan -sesaat saja-, lalu dikatakan: "Hai anak Adam -yakni manusia, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kebaikan -keenakan dimasa sebelumnya- sekalipun sedikit? Adakah suatu kenikmatan yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia berkata: "Tidak, demi Allah, ya Tuhanku"- yakni setelah merasakan pedihnya siksa neraka walau sesaat, maka kenikmatan-kenikmatan dan keenakan-keenakan di dunia itu seolah-olah lenyap sama sekali. Juga akan didatangkanlah orang yang paling menderita kesengsaraan di dunia dan ia termasuk ahli syurga, lalu ia dimasukkan sekali masuk dalam syurga -sesaat saja-, lalu dikatakan padanya: "Hai anak Adam, adakah engkau dapat merasakan sesuatu kesengsaraan, sekalipun sedikit? Adakah suatu kesukaran yang pernah menghampirimu sekalipun sedikit?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah, tidak pernah ada kesukaranpun yang menghampiri diriku dan tidak pernah saya melihat suatu kesengsaraan pun sama sekali," -yakni setelah merasakan kenikmatan syurga, maka kesengsaraan dan kesukaran yang pernah diderita di dunia itu seolah-olah lenyap sekaligus. (Riwayat Muslim)

461. Dari al-Mustaurid bin Syaddad r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah -berarti- dunia ini kalau dibandingkan dengan akhirat, melainkan seperti sesuatu yang seorang diantara engkau semua menjadikan jarinya masuk dalam air lautan, maka cobalah lihat dengan apa ia kembali -yakni seberapa banyak air yang melekat di jarinya itu, jadi dunia itu sangat kecil nilainya dan hanya seperti air yang melekat di jari tadi banyaknya-." (Riwayat Muslim)

462. Dari Jabir r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui pasar, sedang orang-orang ada di sebelahnya kiri kanan. Kemudian melalui seekor anak kambing kecil telinganya dan telah mati. Beliau s.a.w. menyentuhnya lalu mengambil telinganya, terus bertanya: "Siapakah diantara engkau semua yang suka membeli ini dengan uang sedirham?" Orang-orang menjawab: "Kita semua tidak suka menukarnya dengan sesuatu apapun dan akan kita gunakan untuk apa itu?" Beliau bertanya lagi: "Sukakah engkau semua kalau ini diberikan -gratis- saja padamu." Orang-orang menjawab: "Demi Allah, andaikata kambing itu hidup, tentunya juga cacat karena ia kecil telinganya. Jadi apa harganya lagi setelah kambing itu mati?" Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada kambing ini bagimu semua." (Riwayat Muslim) Kanafaihi artinya ada di sebelahnya kanan kiri dan asakku artinya kecil telinganya.

463. Dari Abu Zar r.a., katanya: "Saya berjalan bersama Nabi s.a.w. di suatu tempat yang berbatu hitam di Madinah, lalu berhadap-hadapanlah gunung Uhud dengan kita, kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Hai Abu Zar." Saya berkata: "Labbaik, ya Rasulullah." Beliau bersabda lagi: "Tidak menyenangkan padaku andaikata saya mempunyai emas sebanyak gunung Uhud ini, sampai berlalu tiga hari lamanya, diantaranya ada sedinar saja yang saya simpan untuk memenuhi hutang, kecuali saya akan mengucapkan dengan memberikan harta itu untuk para hamba Allah demikian demikian demikian." Beliau menunjuk ke sebelah kanan, kiri dan belakangnya -maksudnya bahwa kalau beliau s.a.w. mempunyai harta sebanyak Uhud dan berupa emas, apalagi lainnya, tentu akan disedekahkan kepada hamba-hamba Allah semuanya, kecuali sedinar saja yang akan disimpan jikalau ada hutang yang belum ditunaikannya dan harta sebanyak itu akan dihabiskan membelanjakannya dalam tiga hari saja-. Kemudian beliau s.a.w. berjalan, lalu bersabda lagi: "Sesungguhnya orang-orang yang kaya raya dengan harta dunia itulah yang tersedikit pahala akhiratnya pada hari kiamat nanti, melainkan orang yang berkata demikian, demikian dan demikian -yakni membelanjakan hartanya itu untuk kebaikan." Beliau s.a.w. menunjuk ke kanan, kiri dan belakangnya. Sabdanya lagi: "Tetapi sedikit sekali orang yang suka melakukan demikian tadi." Seterusnya beliau bersabda padaku: "Tetaplah engkau di tempatmu ini. Jangan berpindah -yakni meninggalkan tempat itu, sampai saya datang padamu nanti." Beliau s.a.w. berangkat dalam malam yang kelam itu sampai tertutup dari pandangan. Kemudian saya mendengar suara yang keras sekali, lalu saya merasa takut barangkali ada seorang yang hendak berbuat jahat pada Nabi s.a.w. Saya ingin hendak mendatanginya, tetapi saya ingat akan sabdanya: "Janganlah engkau meninggalkan tempat ini sampai saya datang padamu." Oleh karena itu saya tidak meninggalkan tempat itu sehingga beliau s.a.w. datang padaku. Kemudian saya berkata: "Saya telah mendengar suatu suara yang saya merasa ketakutan padanya," lalu saya ingatkan bunyi suara itu pada beliau. Selanjutnya beliau bersabda: "Adakah engkau mendengarnya?" Saya menjawab: "Ya." Beliau lalu bersabda: "Itu tadi adalah suara Jibril yang datang padaku, lalu ia -Malaikat Jibril- berkata: "Barangsiapa yang meninggal dunia dari umatmu, yang tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia akan masuk syurga." Saya bertanya: "Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri?" Beliau menjawab: "Sekalipun ia berzina dan sekalipun ia mencuri." (Muttafaq 'alaih) hadits ini adalah lafaznya Imam Bukhari.

464. Dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Andaikata saya memiliki emas sebanyak gunung Uhud, niscaya saya tidak senang kalau berjalan sampai lebih dari tiga hari, sedangkan disisiku masih ada emas itu sekalipun sedikit, kecuali kalau yang sedikit tadi saya sediakan untuk memenuhi hutang -yang menjadi tanggunganku. (Muttafaq 'alaih)

465. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Lihatlah kepada orang yang tarafnya ada di bawahmu semua dan janganlah melihat orang yang tarafnya ada di atasmu semua -dalam hal keduniaan. Sebab yang sedemikian itu lebih nyata bahwa engkau semua tidak akan menghinakan kenikmatan yang dilimpahkan atasmu semua itu." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Muslim. Adapun dalam riwayat Bukhari ialah: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jikalau seorang dari engkau semua melihat pada orang yang dilebihkan daripada dirinya sendiri -oleh Allah- dalam hal keduniaan dan keindahan rupa, maka hendaklah memperhatikan saja kepada orang yang keadaannya lebih bawah daripadanya."

466. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Binasalah - yakni celakalah- orang yang menjadi hambanya dinar -emas- dan dirham -perak-, beludru sutera serta pakaian. Jikalau ia diberi itu relalah hatinya dan jikalau tidak diberi, maka tidaklah rela -maksudnya ialah amat sangat tamaknya-. (Riwayat Bukhari)

467. Dari Abu Hurairah r.a. pula katanya: "Saya benar-benar telah melihat tujuh puluh orang dari ahlus shuffah -orang-orang Islam yang fakir-miskin-,[48] tidak seorangpun dari mereka yang mengenakan selendang, ada kalanya bersarung dan ada kalanya berbaju. Mereka mengikatkan pada lehernya masing-masing. Di antaranya ada pakaiannya itu hanya sampai pada setengah dari kedua betisnya dan diantaranya ada pula yang sampai di kedua mata kakinya, lalu dikumpulkannyalah dengan tangannya karena tidak suka terlihat auratnya." (Riwayat Bukhari)

468. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dunia ini adalah penjara bagi orang mu'min -kalau dibandingkan dengan kenikmatan yang disediakan di syurga- dan syurga bagi orang kafir -kalau dibandingkan dengan pedihnya siksa di neraka-." (Riwayat Muslim)

469. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma katanya: "Rasulullah s.a.w. menepuk kedua belikatku, lalu bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau orang gharib -yakni perantau atau orang yang sedang berada di negeri orang dan tentu akan kembali ke negeri asalnya- atau sebagai orang yang menyeberangi jalan -yakni amat sebentar sekali di dunia ini-." Ibnu Umar berkata: "Jikalau engkau di waktu sore, maka janganlah menantikan waktu pagi dan jikalau engkau di waktu pagi, maka janganlah menantikan waktu sore -untuk beramal baik itu, ambillah kesempatan sewaktu engkau sehat untuk masa sakitmu, sewaktu engkau masih hidup untuk masa matimu." (Riwayat Bukhari) Para alim ulama mengatakan dalam syarahnya hadits ini: "Artinya ialah: Janganlah engkau terlampau cinta pada dunia, jangan pula dunia itu dianggap sebagai tanahair, juga janganlah engkau mengucapkan dalam hatimu sendiri bahwa engkau akan lama kekalmu di dunia itu. Selain itu janganlah pula amat besar perhatianmu padanya, jangan tergantung padanya, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan menggantungkan diri pada negeri orang yakni yang bukan tanah airnya sendiri. Juga janganlah bekerja di dunia itu, sebagaimana orang yang bukan di negerinya tidak akan berbuat sesuatu di negeri orang tadi -yakni yang diperbuat hendaklah yang baik-baik saja supaya meninggalkan nama harum di negeri orang, karena pasti ingin kembali ke tempat keluarganya semula. Wa billahit taufiq.

Keterangan:
Seorang asing atau seorang perantau itu, sekalipun berapa saja lamanya di negeri orang, ia tetap tidak bertanah air di tempat yang didiami itu. Kalau orang itu bijaksana, tentu kegiatan bekerjanya ditujukan untuk mencari bekal yang akan dibawa ke tanah airnya  kembali, sehingga hidupnya di negeri asalnya itu tidak mengalami kekecewaan dan tidak mengalami kekurangan sesuatu apapun, sebab telah dipersiapkan seluruhnya. Nabi Muhammad s.a.w. menasihati kita manusia yang masih hidup di dunia sekarang ini, hendaknya beranggapan sebagai orang asing atau perantau yang bijaksana tadi. Dengan demikian tidak hanya sekadar untuk makan minum saja yang giat kita usahakan, tetapi bekal untuk kembali ke kampung akhirat itulah yang wajib lebih diutamakan. Bekal untuk berpergian yang jauh ke tanah air akhirat itu tidak ada -jalan- lain kecuali -supaya- memperbanyak amalan yang shalih, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. Adapun maksud ucapan Ibnu Umar anhuma itu ialah supaya segera-segeralah kita melakukan amal-amal yang baik, jangan ditunda-tunda waktunya. Kalau waktu pagi, jangan menunggu sampai sore hari dan kalau waktu sore jangan menunggu sampai pagi hari, sebab kematian itu datangnya dapat sekonyong-konyong. Demikian pula di saat badan sehat, jangan memperlambat-lambatkan untuk beramal shalih, sebab sakit itu dapat mendatangi kita sewaktu-waktu. Juga selagi masih hidup ini segeralah giat-giat berbuat kebajikan, sebab mati itupun dapat juga mendadak, tanpa memberikan tanda-tanda apapun.

Kini yang perlu kita perhatikan ialah:
  1. Dunia fana ini jangan sampai dianggap sebagai tempat kediaman yang abadi, agar kita tidak lengah untuk mencari bekal guna kebahagiaan kita di akhirat.
  2. Ini tidak berarti bahwa untuk kebahagiaan kita di dunia harus diabaikan, tetapi antara dua kepentingan itu wajib kita laksanakan bersamaan. Masing-masing sama dikejar menurut waktunya sendiri-sendiri. Jadi di waktu datang kewajiban ibadah jangan sekali-kali digunakan mengejar duit atau sebaliknya.
  3. Mencintai harta benda duniawiyah jangan melampaui batas, hingga menjadi kikir untuk melakukan kesosialan. Ingatlah bahwa semua yang kita cintai itu pada suatu ketika pasti akan kita tinggalkan, sedangkan harta benda itu nantinya menjadi milik orang lain dan tidak mustahil akan dibuat bentrokan di kalangan anak dan cucu. Perbanyaklah amal shalih sedapat mungkin dengan harta yang kita miliki itu.
470. Dari Abu Abbas, yaitu Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi r.a., katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, tunjukkanlah padaku sesuatu amalan yang apabila amalan itu saya lakukan, maka saya akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh seluruh manusia." Beliau s.a.w. bersabda: "Berzuhudlah di dunia, tentu engkau dicintai oleh Allah dan berzuhudlah dari apa yang dimiliki oleh para manusia, tentu engkau akan dicintai oleh para manusia." hadits hasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lain-lainnya dengan isnad-isnad yang baik.

471. Dari an-Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhuma, katanya: "Umar bin Alkhaththab r.a. menyebut-nyebutkan apa yang telah didapatkan oleh orang banyak dari hal dunia, lalu katanya: "Sungguh saya melihat Rasulullah s.a.w. mengkerut pada hari ini, beliau tidak mendapatkan kurma yang bermutu rendahpun untuk mengisi perutnya." (Riwayat Muslim) Addaqal dengan fathahnya dal muhmalah dan qaf, artinya ialah kurma yang bermutu rendah.

472. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. wafat, sedang di rumahku tidak ada sesuatu apapun yang dapat dimakan oleh seorang yang berhati -maksudnya oleh manusia yang hidup, melainkan sedikit gandum yang ada di rakku. Kemudian saya makan daripadanya sampai lama halku sedemikian itu, kemudian saya takarlah itu lalu habislah." (Muttafaq 'alaih) Ucapannya: Syathru sya'irin itu artinya sedikit sekali dari gandum itu, demikianlah yang ditafsirkan oleh Imam Tirmidzi.

473. Dari 'Amr bin al-Harits, yaitu saudaranya Juwairiyah binti al-Harits Ummul mu'minin radhiallahu'anhuma -jadi istrinya Nabi s.a.w., katanya: "Rasulullah s.a.w. tidak meninggalkan dirham, tidak pula dinar, hamba sahaya lelaki ataupun perempuan, atau apapun juga ketika wafatnya, melainkan hanyalah keledai putihnya yang dahulu dinaikinya, juga senjatanya, serta sebidang tanah yang dijadikan sebagai sedekah kepada ibnussabil -orang yang dalam perjalanan." (Riwayat Bukhari)

474. Dari Khabab bin al-Aratti r.a., katanya: "Kita semua berhijrah bersama Rasulullah s.a.w. untuk mencari keridhaan Allah Ta'ala, maka jatuhlah pahala kita itu atas Allah Ta'ala. Lalu diantara kita ada yang mati dan tidak pernah memperoleh sesuatupun dari pahalanya itu -tetaplah, yakni tidak pernah sampai memperoleh harta rampasan-. Di antara mereka itu ialah Mus'ab bin Umair r.a. yang dibunuh pada hari perang Uhud dan meninggalkan selembar baju lurik -seperti singa. Apabila bajunya itu kita tutupkan pada kepalanya, maka tampaklah kedua kakinya, dan apabila kita tutupkan pada kedua kakinya, maka tampak kepalanya. Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh kita, supaya kita tutupkan saja pada kepalanya, sedang di kedua kakinya kita letakkan saja sedikit tumbuh-tumbuhan idzkhir -semacam tumbuh-tumbuhan harum baunya. Di antara kita lagi ada yang sudah masak buahnya, maka dapatlah ia memetik hasilnya itu -maksudnya dapat menjadi baik nasibnya karena kaum Muslimin mendapatkan kejayaan di mana-mana (Muttafaq 'alaih) Annamirah ialah pakaian yang berwarna, terbuat dari bulu, Aina'at artinya sudah matang dan masak. Yahdibuha dengan fathahnya ya' dan dhammahnya dal atau boleh juga dal itu dikasrahkan -jadi ada dua lughat untuk ini, artinya memetik dan menuainya. Ini adalah kata pinjaman bahwa Allah mengaruniakan kaum Muslimin itu dapat memperoleh kelapangan dari hal keduniaan dan menetaplah kenikmatan mereka itu di dunia.

475. Dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idi r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -nilainya- dengan selembar sayap nyamuk, sesungguhnya Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir daripadanya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

Maksudnya: Andaikata dunia ini bagi Allah dianggap masih ada nilainya sekalipun amat rendah, tentu orang kafir tidak akan diberi kenikmatan yang sekecil-kecilnya pun di dunia ini. Tetapi oleh sebab dianggap oleh Allah tidak berharga sama sekali, maka banyak saja orang kafir yang berlebih-lebihan rezekinya.

476. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berdzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

Keterangan:
Mal-'uunah, artinya dilaknati, yakni dibenci dan rendah nilainya di sisi Allah. Jadi seluruh dunia dan seisinya ini menurut hadits di atas adalah terlaknat, selain berdzikir dan yang menjurus ke arah mengingat kepada Allah, misalnya ketaatan yang dapat menyampaikan diri kepada keridhaanNya. Tetapi kita jangan sekali-kali salah faham, yaitu dengan adanya keterangan dilaknat itu lalu kita mencaci-maki hal-hal keduniawiyahan dan membencinya secara mutlak. Tetapi hendaknya kita ingat pula bahwa yang dimaksudkan itu adalah yang menyebabkan menjauhkan diri dari ketaatan kepada Allah Ta'ala ataupun yang melalaikan kita, sehingga lupa kepada hal-hal keakhiratan. Ayat-ayat dan Hadis-hadis yang menjelaskan persoalan untuk giat mencari kebahagiaan di dunia itu banyak sekali. Demikian pula hadits yang di bawahnya, agar kita jangan terpengaruh dengan banyaknya tanah yang kita miliki. Inipun sejiwa dengan yang di atas, yakni memiliki banyak boleh saja, asalkan jangan sampai mencintainya melebihi dari soal-soal keakhiratan, sampai-sampai lupa kepada ajaran agama karena terpesona dengan banyaknya harta benda.

477. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah engkau semua terlampau cinta dalam mencari sesuatu untuk kehidupan, sebab dengan terlampau mencintainya itu, maka engkau semua akan mencintai pula keduniaan." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan.

478. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah s.a.w. berjalan melalui kita dan kita saat itu sedang mengerjakan perbaikan rumah, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Apa ini?" Kita menjawab: "Rumah ini telah lemah -rusak, maka itu kita memperbaikinya." Beliau s.a.w. bersabda: "Saya tidak mengerti akan perkara ajal, melainkan akan lebih cepat datangnya dari selesainya perbaikan -rumah- ini." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnadnya Imam-imam Bukhari dan Muslim dan Imam Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

479. Dari Ka'ab bin 'lyadh r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku ialah harta." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

480. Dari Abu 'Amr, ada yang mengatakan Abu Abdillah, ada pula yang mengatakan Abu Laila yaitu Usman bin Affan r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak ada hak apapun bagi anak Adam -yakni manusia- selain dari perkara-perkara ini, yaitu rumah yang menjadi tempat kediamannya, pakaian yang digunakan untuk menutupi auratnya dan roti tawar -tanpa lauk- beserta air." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih. Imam Tirmidzi berkata: "Saya mendengar Abu Dawud yaitu Sulaiman bin Aslam al-Balkhi berkata: "Saya mendengar an-Nadhr bin Syumail, katanya: Aljilfu itu ialah roti tanpa lauk." Lainnya lagi berkata: "Yaitu roti yang kasar," sedang Alharawi berkata: "Yang dimaksudkan di sini ialah wadah roti seperti juwatik dan khurj." Wallahu a'lam.

481. Dari Abdullah bin as-Sikhkhir -dengan kasrahnya sin dan kha' yang disyaddahkan serta mu'jamah keduanya- r.a., bahwasanya ia berkata: "Saya datang kepada Nabi s.a.w. dan beliau sedang membaca ayat -yang artinya: "Engkau semua dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak kekayaan." Lalu beliau bersabda: "Anak Adam itu berkata: "Hartaku, hartaku! Padahal harta yang benar-benar menjadi milikmu itu, hai anak Adam, ialah apa-apa yang engkau makan lalu engkau habiskan, apa-apa yang engkau pakai, lalu engkau rusakkan atau apa-apa yang engkau sedekahkan lalu engkau lampaukan -dengan tetap adanya pahala." (Riwayat Muslim)

482. Dari Abdullah bin Mughaffal r.a., katanya: "Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Ya Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya saya ini niscaya cinta kepada Tuan." Beliau lalu bersabda: "Lihatlah baik-baik apa yang engkau ucapkan itu." Orang itu berkata lagi: "Demi Allah, sesungguhnya saya ini sesungguhnya cinta kepada Tuan." Dia berkata demikian sampai tiga kali. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau engkau mencintai saya, maka sediakanlah sebuah baju tijfaf untuk menempuh kefakiran, sebab sesungguhnya kefakiran itu lebih cepat mengenai orang yang mencintai saya daripada cepatnya air banjir sampai di tempat penghabisannya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan. Attijfaf dengan kasrahnya ta' mutsannat dan sukunnya jim dan dengan fa' yang dirangkapkan yaitu sesuatu yang dikenakan pada kuda untuk menjaga dirinya dari bahaya senjata dan lain-lain, dan kadang-kadang pakaian sedemikian itu juga dikenakan oleh manusia.

Keterangan:
Mungkin kita akan merasakan suatu keanehan pada sabda Rasulullah s.a.w. kepada orang yang menyatakan cintanya kepada beliau, lalu beliau bersabda supaya orang itu bersiap-siap mengenakan baju kefakiran. Mengapa demikian dan apakah ada di balik sabda beliau itu yang sebenarnya? Kita wajib ingat bahwa orang yang menyatakan dirinya kepada Nabi s.a.w., baik orang di zaman sahabat dahulu ataupun di zaman kita ini, berarti ia merasa ikut bertanggungjawab menyebarluaskan agama yang benar yakni Islam yang dibawa olehnya, bersedia berkorban, sanggup menderita dalam menghadapi siapapun yang hendak menghalang-halangi perkembangan agama itu. Untuk berkorban itu, bukan hanya berupa omongan yang keluar dari bibir yang tak bertulang, tetapi wajib disertai dengan perbuatan, dengan menginfakkan dan membelanjakan harta, menyumbangkan tenaga dan fikiran dan bilamana diperlukan berjihadpun suka mengikutinya. Jadi bukan sebaliknya, misalnya mengakukan dirinya mencintai Nabi s.a.w., namun perbuatannya jauh bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Islam. Karena itu, jikalau benar-benar mencintai Nabi, pengabdian dan pengorbanan wajib ada. Orang yang bersikap demikian itulah yang dimaksudkan oleh beliau s.a.w. supaya menyiapkan diri untuk mengenakan baju tijfaf liifaqri sebagaimana yang tercantum dalam hadits di atas. Wallahu a'lam.

483. Dari Ka'ab bin Malik r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dikirimkan ke tempat kambing itu lebih berbahaya padanya daripada tamaknya seorang itu pada harta dan kemegahan dalam membahayakan agamanya." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

484. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. tidur di atas selembar tikar, lalu bangun sedang di lambungnya tampak bekas tikar itu. Kami berkata: "Ya Rasulullah, alangkah baiknya kalau kita ambilkan saja sebuah kasur untuk Tuan." Beliau bersabda: "Apakah untukku ini dan apa pula untuk dunia -maksudnya bagaimana saya akan senang pada dunia ini-. Saya di dunia ini tidaklah lain kecuali seperti seorang yang mengendarai kendaraan yang bernaung di bawah pohon, kemudian tentu akan pergi dan meninggalkan pohon itu." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

485. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orang-orang fakir itu akan masuk syurga sebelum orang-orang kaya dengan selisih waktu lima ratus tahun." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.

486. Dari Ibnu Abbas dan Imran bin Hushain radhiallahu 'anhum dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Saya telah menjenguk dalam syurga, maka saya melihat bahwa sebagian banyak penghuninya adatah kaum fakir dan saya juga telah menjenguk dalam neraka, maka saya melihat bahwa sebagian banyak penghuninya adalah para wanita." Muttafaq 'alaih dari riwayat Ibnu Abbas. Imam Bukhari meriwayatkan pula dari riwayatnya Imran bin Hushain.

487. Dari Usamah bin Zaid, radhiallahu 'anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Saya berdiri di pintu syurga, maka sebagian besar orang yang memasukinya itu ialah orang-orang miskin, sedang orang-orang yang kaya -berharta- semua ditahan dulu, hanya saja orang-orang yang menjadi ahli neraka telah diperintah untuk dimasukkan dalam neraka seluruhnya." (Muttafaq 'alaih) Aljaddu ialah bagian harta dan kekayaan, Hadis ini telah lalu keterangannya dalam bab: Keutamaan kaum lemah.

488. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Setepat-tepatnya kalimat yang diucapkan oleh seorang syair ialah ucapan Labid -yang artinya: "Ingatlah, semua benda yang selain Allah adalah batil -atau rusak dan tidak kekal." (Muttafaq 'alaih)

Lanjutan dari sya'ir di atas ialah: "Dan setiap kenikmatan itu pasti akan hilang yakni tidak kekal." Jadi yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. hanyalah separuh bait yang pertama, sedang yang lanjutannya tidak. Sebabnya ialah karena ada sesuatu kenikmatan yang tetap kekal, yaitu kenikmatan yang akan diperoleh ahli syurga, apabila mereka telah berada di dalamnya. Kenikmatan di situ kekal abadi dan tidak akan lenyap sampai kapanpun juga.